Selamat Datang di Nagari Canduang Koto Laweh
  • pemandangan 1
  • pemandangan 2
  • pemandangan 3
Tampilkan postingan dengan label MDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MDA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2011

MDA MASJID AL-KHAIRA KAYU BAGANTI LAYAK DIANGKAT MENJADI MDA MODEL

Tigo Kampuang - Selasa, 20/09/2011 |

"Salut dan bangga", kata-kata itu cukup untuk mewakili kekaguman terhadap pengurus MDA Masjid Al-Khaira Kayu Baganti jorong III Kampuang kenagarian Canduang Koto Laweh. Disa'at Madrasah-madrasah diniyah Awaliyah di Canduang mengeluh kekurangan dana dan sarana, Pengurus MDA Masjid Al-Khaira sanggup mensejahterakan tenaga pengajarnya dengan honor 500 ribu rupiah perbulan serta mencukupi pengadaan mobiler PBM.


Salah satu masalah yang dibahas pada pertemuan halal-bihalal masyarakat Canduang bersama perantau pada Rabu (31/08) lalu adalah tentang nasib MDA yang mulai memprihatinkan. Gaji guru yang dibawah standar, lengangnya MDA masjid/mushalla dengan adanya MDA plus di SD dan MI, mobiler yang mulai rusak, kekurangan buku, minimnya bahan ajar serta kurangnya media pengajaran. Kendatipun pemerintahan daerah dan nagari selalu menganggarkan dana untuk membantu MDA sekali setahun, namun masih belum juga memadai. Para perantau Canduang juga telah membuat program yang sama untuk MDA yang dikelola oleh paguyuban-paguyuban di perantauan. Lain dengan MDA Masjid Al-Khaira Kayu Baganti dengan kepengurusan yang kreatif dan memiliki ide-ide cemerlang dalam mengumpulkan dana untuk mengembangkan MDA.

MDA yang telah berumur lebih dari 30 tahun ini sekarang memiliki 38 murid dari 13 orang pada November 2010. Akhir tahun 2010 lalu MDA ini hampir mati dengan honor guru hanya Rp. 50.000 saja. 38 orang murid itu dibimbing oleh 3 orang guru yaitu Asmirawati, Yulianti dan Rika Rahman dengan kepala sekolah Yonis, S.Pd. Pengurus aktif yang mengurusi MDA ini diantaranya adalah Syafrianis sebagai ketua, Jamilus sebagai Sekretaris dan Netriwati sebagai Bendahara.

Semangat membangun kembali MDA Masjid Al-Khaira berawal ketika pergantian pengurus pada November 2010. Sebelumnya MDA ini diurus oleh Niniak-mamak saja. Tidak nampak perkembangan yang berarti hingga bertahun-tahun dan akhirnya semakin menurun saja. Kemudian masyarakat bermufakat memasukkan unsur Amai-bapak (orang Sumando) dalam kepengurusan. Pada kepengurusan baru ini nampak semangat dan gairah menggelora untuk kembali maju ditopang oleh ide dan visi yang jelas.

Dalam kurun 8 bulan saja teraup dana sumbangan lebih dari 38 juta rupiah. Dana itu digunakan untuk pengadaan mobiler dan menambah honor pengajar dengan laporan keuangan transparan yang bisa diakses oleh siapa saja. Demi setelah melihat hasil yang signifikan, maka sejak ramadhan lalu semangat masyarakat untuk menyumbang terus bertambah sehingga saldo terakhir yang tinggal di BRI berjumlah 37 juta rupiah. Untuk gaji guru, pengurus tidak payah mengambil tabungan di bank untuk membayarnya. Karena setiap bulan ada program sumbangan jemputan seribu rupiah per rumah yang dipungut setiap bulannya. Dalam pembangunan selanjutnya, pengurus MDA berencana akan memasang lantai keramik. |fd|
READ MORE - MDA MASJID AL-KHAIRA KAYU BAGANTI LAYAK DIANGKAT MENJADI MDA MODEL Baca Selanjutnya...

PENGURUS MDA MASJID AL-KHAIRA PATUT DIACUNGI JEMPOL

Tigo Kampuang - Selasa, 20/09/2011 |
Mengejutkan, Pengurus MDA Masjid Al-Khaira Kayu Baganti jorong III Kampuang nagari Canduang Koto Laweh mengundang pemerintahan kecamatan, pengurus KAN, wali nagari dan kepala jorong pada pagi Ahad (18/09) lalu dalam rangka mengekspos kemajuan yang telah diraihnya. Tidak biasanya seperti di tempat lain, undangan terhadap pejabat hanyalah sebagai salah-satu acara untuk meminta dana sumbangan, tidak demikian di MDA ini.

Pada acara singkat yang kurang dari 2 jam itu hadir Camat Canduang Drs. Surya Wendri, Ketua KAN Canduang Koto Laweh HZ, Dt. Ambasa, Wali Nagari Canduang Koto Laweh Thamrin HK. Dt. Pangeran, S.Sos, kepala jorong III Kampuang Asril Rajo Mangiang pengurus serta guru MDA dan wali-wali murid yang pada hari itu bergotong-royong mencat dinding MDA.


Dalam sambutannya kepala MDA Al-Khaira Yonis, S.Pd menyampaikan bahwa MDA yang telah berumur lebih dari 30 tahun ini sekarang memiliki 38 murid dari 13 orang pada November 2010. Akhir tahun 2010 lalu MDA ini hampir mati dengan gaji guru hanya Rp. 50.000 saja. 38 orang murid itu dibimbing oleh 3 orang guru yaitu Asmirawati, Yulianti dan Rika Rahman dengan kepala sekolah Yonis, S.Pd. Pengurus aktif yang mengurusi MDA ini diantaranya adalah Syafrianis sebagai ketua, Jamilus sebagai Sekretaris dan Netriwati sebagai Bendahara.
Sebelumnya MDA ini diurus oleh Niniak-mamak saja. Ketika itu belum nampak perkembangan yang berarti hingga bertahun-tahun semakin menurun saja. Kemudian pada November 2010 masyarakat bermufakat memasukkan unsur Amai-bapak (orang Sumando) dalam kepengurusan. Semangat dan gairah kembali bergelora untuk membangun nampak pada kepengurusan baru ini yang ditopang oleh ide dan visi yang jelas. Dalam kurun 8 bulan saja pengurus telah berhasil meraup dana sumbangan lebih dari 38 juta rupiah. Dana itu digunakan untuk pengadaan mobiler dan membayar honor pengajar Rp. 500.000 perbulan dengan laporan keuangan transparan yang bisa diakses oleh siapa saja.
Demi setelah melihat hasil yang signifikan, maka sejak ramadhan lalu semangat masyarakat untuk menyumbang terus bertambah sehingga saldo terakhir yang tinggal di BRI berjumlah 37 juta rupiah. Untuk honor guru, pengurus tidak payah mengusik tabungan. Karena pengurus MDA juga ada program sumbangan jemputan seribu rupiah per rumah yang dipungut setiap bulan. Kami tidak pernah mengeluh dengan minimnya sarana sebelumnya, kami menyikapinya dengan berusaha dan berjuang. Harapan kami dalam tahun ini adalah anak-anak kami mampu untuk ikut MTQ tingkat kabupaten yang akan diadakan di Canduang tahun 2012 mendatang ungkap Yonis.
Wali nagari Canduang Koto Laweh Thamrin HK. Dt. Pangeran, S.Sos menyampaikan bahwa warga Canduang Koto Laweh sebahagian tinggal dikampuang dan sebahagian lagi tinggal di perantauan. Masyarakat rantau tidak semuanya yang hidup berkecukupan. Tidak selayaknya mereka diwajibkan untuk membiayai pembangunan nagari, tetapi hanya partisipasi saja sebagaimana kita yang tinggal di kampung. Tentu seyogyanya yang lebih berkewajiban membangun kampung adalah yang tinggal dikampung sendiri. Sebaiknya dalam pembangunan pendidikan jangan kita bedakan-bedakan pula antara niniak-mamak dengan amai-bapak. Membaurlah hendaknyo seperti jajak dan tapak. Di nagari Canduang Koto Laweh ada 15 MDA dan 2 TPQ dengan 83 orang tenaga pengajar. Pemerintahan nagari telah mengusulkan kepada IKCK (Ikatan Keluarga Canduang Koto Laweh) supaya memprogramkan juga bantuan untuk MDA. Setiap tahun kita selalu menganggarkan dana untuk MDA dan TPQ yang diambil dari APBN Nagari. Walaupun sedikit, namun kita akan berusaha meningkatkannya. Bila nanti pengurus MDA mendapat bantuan dana dari perantauan, maka sampaikanlah ucapan terimakasih dan transparanlah dalam mengelola keuangan. Dengan adanya media internet sekarang ini kita bisa juga melaporkannya seperti di Canduang Media Center.
Camat Canduang Drs. Surya wendri memberi apresiasi besar untuk pengurus MDA. Pengajaran al-Quran dari surau ke kelas memang telah berubah dan selayaknya kita mengikuti perkembangannya. Disisi itu ternyata ada MDA yang seperti ini ya! Bisa mandiri diatas kaki sendiri, Kagum Wendri. Kita berharap MDA ini menjadi MDA Model di kecamatan Canduang. Dalam waktu dekat ini saya ingin berkumpul bersama pengurus BKMDA membicarakan hal-hal yang patut kita sikapi bersama. Keinginan dari bapak untuk mengkader anak-anak MDA ini untuk menjadi Qori dan Qari'ah saya sambut baik. Untuk mempertahankan kemajuan MDA ini, kita mesti selalu berkoordinasi dengan niniak-mamak, amai-bapak dan pemerintah. Honor guru MDA ini adalah yang tertinggi di kecamatan Canduang ungkap Wendri. Kemudian Surya Wendri ikut memberi sumbangan untuk membeli papan tulis white board. |fd|
READ MORE - PENGURUS MDA MASJID AL-KHAIRA PATUT DIACUNGI JEMPOL Baca Selanjutnya...